Seribu Pertanyaan Untuk GUNDALA, Sang “Wakil” Rakyat

Seribu Pertanyaan Untuk GUNDALA, Sang “Wakil” Rakyat

“Kamu siapa?

Rakyat

Tutur Sancaka saat Ridwan Bahri penasaran setengah mati siapakah sosok yang baru saja menyelamatkan dirinya.

JAKARTA – RakyatBumilangit.com | GUNDALA adalah film pembuka dari suatu “semesta” baru yang cukup mengejutkan dunia perfilman Indonesia; Jagat Sinema Bumilangit Jilid I. Akhirnya kini Indonesia memiliki film superhero yang berkonsep cinematic universe setelah bertahun-tahun kita hanya bisa menikmati asupan film-film tersebut dari Hollywood.

Bisa dibilang film Gundala ini mendapatkan mixed reviews. Banyak yang bilang film ini seru dan bagus sekali, membanggakan, serta memenuhi ekspektasi. Tak sedikit juga yang bilang bahwa film ini mengecewakan, terlalu banyak plot hole, bahkan ada juga ucapan seperti “jAuH bAngEt sAmA FiLm mArVeL/dC”.

Tentu saja kita tidak bisa membandingkan film Gundala (dan juga film-film Jagat Sinema Bumilangit lainnya nanti) dengan film-film superhero rilisan Marvel Cinematic Universe atau DC Extended Universe. Kita tidak bisa (atau belum bisa) berekspektasi akan adanya adegan-adegan yang memiliki visual effect yang canggih dan juga megah di film-film rilisan Jagat Sinema Bumilangit. Joko Anwar sendiri mengatakan di twitter bahwa budget film ini 1/1000 dari apa yang MCU/DCEU punya.

Lalu, bagaimana film ini dari segi cerita yang banyak orang bilang terdapat banyak plot hole? Di bawah ini saya coba menjelasakan jawaban dari beberapa pertanyaan yang sering dilontarkan orang-orang yang baru selesai menonton Gundala dan bingung atau bahkan kecewa dengan plot di film ini yang terasa berantakan dan “berlubang”.

Jawaban-jawaban dari pertanyaan di bawah ini saya dapat dari beberapa hal yang diceritakan di komik Gundala, hasil observasi setelah menonton Gundala yang kedua kalinya, hasil diskusi dengan beberapa sesama penggemar Jagat Bumilangit, dan beberapa jawaban yang masih sekadar fan theory.

[Peringatan: Mengandung banyak sekali spoiler bagi yang belum menonton]


“Siapa yang menusuk Bapaknya Sancaka? Kenapa dia harus dibunuh? Siapakah pemilik pabrik tersebut? Apa ada kaitannya dengan Pengkor?”

Kalau kalian ingat, ada 2 orang teman Bapaknya Sancaka yang masuk ke pabrik untuk negosiasi dengan pemilik pabrik. Salah satu temannya sudah ketahuan ada di dalam rumah saat Ibunya berkunjung untuk menemui istri dari teman Bapaknya itu. Kemungkian besar, temannya yang satu lagi yang bertugas untuk membunuh Bapaknya Sancaka. Di film terlihat orang yang menusuk Bapaknya Sancaka menggunakan penutup wajah sehingga tidak terlihat jelas wajahnya.

Alasan kenapa Bapaknya Sancaka dibunuh adalah karena dia sangat vokal terhadap ketidakadilan yang dilakukan oleh pemilik pabrik sehingga mampu menggerakan buruh lainnya untuk berdemo. Untuk pertanyaan siapakah pemilik pabrik tersebut, mungkin ia hanya seorang pemilik pabrik yang kejam yang tidak ada kaitannya dengan kisah Sancaka kelak.

Atau mungkin saja ada kaitannya dan nanti dijelaskan lebih lanjut di film lanjutan Gundala yaitu Gundala Putra Petir. Menurut saya sih kecil kemungkinan keterkaitannya dengan Pengkor, tapi mungkin saja ada. Kalau di komik adapatasi film Gundala, diceritakan jarak umur antara Pengkor dan Sancaka lumayan jauh. Jadi mungkin saja pabrik tersebut merupakan salah satu anak perusahaan Pengkor.

Adegan saat Bapaknya Sancaka tertusuk

“Saat Sancaka menghampiri Bapaknya yang tertusuk, kenapa tiba-tiba dia memegang tameng milik petugas keamanan? Maksud adegan itu apa ya?

Di adegan itu diperlihatkan Sancaka memegang tameng, berteriak, lalu mengeluarkan petir yang memecahkan tameng yang ia pegang dan tameng lainnya yang ada di situ. Adegan itu adalah hint dari Joko Anwar bahwa sedari Sancaka masih kecil, dia sudah mampu menyalurkan energi petir yang ada dalam dirinya untuk beresonansi dengan suatu material yang akan memecahkan/menghancurkan benda lain yang bermaterial sama. Adegan ini adalah petunjuk awal untuk menjelaskan adegan krusial di akhir film nanti. Baca terus sampai bawah ya!

Adegan sebelum Sancaka memegang tameng lalu menyalurkan petir dari tubuhnya

“Siapa sih sosok Awang yang bantuin Sancaka waktu kecil?”

Tokoh Awang ini nantinya akan menjadi sosok hero yang bernama Godam. Karakter Godam juga termasuk di dalam Jagat Sinema Bumilangit yang nantinya akan difilmkan dengan judul Godam & Tira yang akan diperankan oleh Chicco Jerikho sebagai Awang/Godam dan Chelsea Islan sebagai Susie/Tira.

Mungkin saja di film Gundala Putra Petir atau di film Godam & Tira nanti akan dipertemukan kembali Awang & Sancaka yang sama-sama sudah dewasa. Untuk penjelasan origin dan sejarah dari karakter Godam ini, ada salah satu bahasan menarik yang dijelaskan oleh suatu thread dari akun twitter @ShaniBudi:


“Apa maksud dari adegan munculnya pasangan orang kaya yang mengendarai mobil saat Sancaka sedang dikejar-kejar? Apa maksud mereka yang tiba-tiba menyuruh Sancaka masuk ke dalam mobil dan mau mengadopsinya sebagai anak?”

Adegan ini adalah adegan “pemisah” atau pembeda antara kisah Sancaka di komik dengan di film. Di dalam komik Gundala Putera Petir karya Pak Hasmi yang pertama kali diterbitkan di tahun 1969, dikisahkan Sancaka diadopsi oleh orang tua yang kaya raya lalu menjadi ilmuan yang akan membuat serum anoda anti petir.

Sumber: Gundala Putera Petir karangan Hasmi, 1969

Sementara di film, Sancaka yang sudah dewasa menjadi petugas sekuriti di suatu pabrik percetakan koran. Saat Sancaka melihat keluar jendela mobil setelah ditawari untuk diadopsi, adegan itulah adegan “pemutusan” yang membedakan cerita di komik dengan di film. Ini menandakan kemungkinan film-film Jagat Sinema Bumilangit lainnya bisa saja akan memiliki cerita yang berbeda dengan komik aslinya. Joko Anwar juga sempat mengutarakan betapa beratnya memutuskan untuk membedakan kisah Sancaka di film dengan di komik.

Bisa dibilang adegan ini adalah adegan what if. Bagaimana jadinya kalau Sancaka memutuskan untuk keluar mobil? Atau bagaimana jadinya kalau Sancaka mau menerima ajakan adopsi dan bisa bebas memilih kehidupannya seperti menjadi Insinyur, Dokter, atau Ilmuan seperti yang ditawarkan orang kaya itu? Andai saat menontonnya kita bisa memilih keputusan yang ia ambil seperti sedang menonton Black Mirror: BandersnatchHehe.


“Waktu adegan anggota DPR muda yang diancam Pengkor dengan menggantung anggota keluarganya dan menjatuhkannya, kok tiba-tiba diliatin adegan dia lari sendirian tanpa diikat terus jatuh dari apartemennya sih?”

Adegan yang memperlihatkan keluarganya sedang diikat dan digantung dengan tali lalu dijatuhkan adalah adegan halusinasi yang dialami oleh si anggota DPR muda itu (Dirga Utama). Jadi keluarganya tidak beneran dibunuh oleh Pengkor.

Adegan saat Dirga Utama berhalusinasi lalu lompat dari gedung

Sebelumnya kan diperlihatkan dia dihipnotis oleh salah satu anak Bapak (Pengkor) yang bernama Kamal Atmaja yang memiliki kemampuan untuk membuat orang lain berhalusinasi dengan mantra “Sare!”. Karakter ini di komik berjulukan “Sang Pembisik”. Di film Gundala, karakter ini diperankan oleh Ari Tulang.

Karakter yang diperankan Ari Tulang, Kamal Atmaja “Sang Pembisik”


“Ada apa sih di Tenggara? Awang ke sana. Wulan dari sana. Ibunya Sancaka juga ada di sana.”

Kalau soal Tenggara, di beberapa film Joko Anwar lainnya dia sering sebut daerah “Tenggara” itu. Entah ada apa di sana. Hampir di tiap film Joko Anwar, beliau selalu menyelipkan easter eggs dari film-film beliau sebelumnya. Contoh: saat adegan Tedi mendengarkan lagu setelah headphone-nya diperbaiki Sancaka, lagu apa yang Tedi dengarkan? Yup, lagu yang sama seperti yang sering didengarkan “Ibu” di Pengabdi Setan.

Di twitter ada salah satu bahasan menarik tentang keterkaitan antara film-filmnya Joko Anwar, bisa coba scroll up & scroll down pada thread dari akun twitter @djaycoholyc ini:


“Karakter Wulan yang diperankan Tara Basro ini nanti akan jadi hero juga kan?”

Betul. Entah kapan dan di film apa, tapi nanti dia akan menjadi hero bernama Merpati.

Tara Basro yang akan berperan sebagai Merpati

“Darimana Sancaka mendapat kekuatannya? Apa dari tersambar petir? Kenapa petir selalu menghampiri Sancaka?

Di film Gundala, tidak diperlihatkan darimana asal-usul kekuatan Sancaka. Betul, Sancaka terlihat membutuhkan petir untuk mengisi kekuatannya. Tapi sebetulnya kekuatan itu tidak selalu harus bergantung dengan disambar petir.

Kalau diingat-ingat, saat adegan Sancaka kecil mendekati tubuh Bapaknya yang tertusuk, Sancaka marah lalu petir menyambar dari tubuhnya yang menyebabkan tameng yang ia pegang dan tameng lainnya hancur, lalu Sancaka terpental. Saat teman buruh lainnya hendak menolong, orang-orang itu malah tersengat petir dari tubuh Sancaka.

Ini menandakan sejak Sancaka masih kecil, kekuatan petir sudah berada di dalam dirinya jauh sebelum ia dengan sengaja tersambar petir untuk “mengisi” kekuatannya ketika sudah dewasa. Ditambah perkataan Pak Agung saat Sancaka sedang bertarung dengan anak buah Pengkor “Ingat Sancaka, apa yang kamu butuhkan itu ada di dalam dirimu”.

Sancaka sengaja tersambar petir untuk “mengisi” kekuatannya

Sedikit trivia, petir selalu menyambar dan mengisi kekuatan Sancaka melalui kedua kupingnya (terlihat pada gambar di atas). Itulah alasan diperlihatkan adegan Sancaka kecil yang diiris salah satu kupingnya, dan saat Sancaka dewasa bertarung dengan preman pasar pun mereka mengiris kupingnya Sancaka yang satu lagi dengan pisau.

Dua adegan itu berfungsi untuk memperlihatkan kedua kuping Sancaka yang sudah “terkelet” sehingga memudahkan energi petir untuk masuk lewat situ. Maka dari itu adegan Sancaka bersandar ke tembok pabrik lalu kupingnya menempel di lempengan besi yang menjadi konduktor listrik saat petir menyambar adalah sumber inspirasi Sancaka yang memakai aksesoris logam di bagian kedua kuping helm-nya sebagai “antena” untuk menangkap dan mengalirkan energi listrik.

Kalau di komik Gundala Putera Petir karangan Pak Hasmi, Sancaka mendapat kekuatan saat ia “diculik” oleh Kaisar Kronz dari Kerajaan Petir dengan cara menyambarnya degan petir yang membawanya ke Kerajaan Petir. Kaisar Kronz memberi kekuatan pada Sancaka untuk membantunya berperang melawan Kerajaan Mega.

Sumber: Gundala Putera Petir karangan Hasmi, 1969

Nah, di film Gundala hal ini tidak dijelaskan, namun terdapat beberapa hint yang diselipkan oleh Joko Anwar. Yang pertama, petir selalu mengincar Sancaka. Kemanapun Sancaka pergi, rasanya petir selalu ingin menyambarnya. Seolah-olah, seperti di komik, Kaisar Kronz memerintahkan petir untuk “menculik” Sancaka untuk diberikan kekuatan.

Yang kedua, selalu ada suara-suara saat petir menghampiri Sancaka. Coba ditonton lagi deh lalu didengarkan baik-baik saat adegan petir menyambar (tonton di Dolby Atmos Studio untuk pengalaman audio yang jauh lebih baik).

Tebakan saya, suara tersebut adalah suara Kaisar Kronz yang sedang “memanggil” Sancaka. Maka dari itu Sancaka selalu takut lalu menutup kupingnya tiap ada petir karena takut akan suara-suara tersebut. Bahkan hal ini juga ditwit oleh Joko Anwar:

Mungkin inilah alasan kenapa film pertama ini hanya berjudul Gundala dan sequel-nya nanti baru berjudul Gundala Putra Petir, besar kemungkinan di sequel nanti dijelaskan asal-usul kekuatan Sancaka.


“Maksud dari keberadaan Serum Amoral apa sih? Apakah Serum Amoral itu beneran ada, atau Serum Penawar itu yang sebenarnya racun?”

Ini adalah salah satu taktik Pengkor. Serum Amoral itu tidak benar adanya. Cairan hijau yang dimasukan ke dalam beras itu sebenarnya hanya sebuah racun yang hanya bereaksi terhadap ibu hamil, tapi tidak mempengaruhi moral janin.

Karena tidak mungkin moral manusia dipengaruhi oleh suatu zat. Ini adalah salah satu cara Joko Anwar menggambarkan betapa mudahnya hoax atau teori konspirasi tersebar dan membuat panik masyarakat. Semua ini hanyalah akal-akalan Pengkor, untuk membuat satu negara panik sehingga dia dapat menekan pemerintah untuk mendistribusikan serum penawar yang sebenarnya adalah racun yang dapat membuat janin cacat.

Waktu adegan rapat di Rumah Kebenaran yang berisikan anggota DPR dan awak media yang mempunyai satu pemikiran, ada salah satu orang yang menawarkan solusi tentang serum penawar. Kuat dugaan saya dia adalah suruhan Pengkor.

Tujuan Pengkor jelas, untuk membuat satu generasi menjadi cacat dan rusak sehingga dibenci, sebagaimana orang-orang dahulu melihat dirinya. Dengan didistribusikannya serum penawar (yang sebenarnya racun) oleh pemerintah, Pengkor bertujuan untuk memanaskan perseteruan antara rakyat dan pemerintah saat bayi-bayi tersebut lahir, sehingga keadaan makin kacau balau.


“Siapa saja sih anak-anak Bapak yang dipanggil untuk bertarung itu? Apa tidak terburu-buru ya memasukan banyak tokoh hanya untuk sekali pakai di adegan itu? Namanya saja tidak dijelaskan.”

Untuk menjawab pertanyaan ini, saya sarankan anda untuk membeli komik terbaru Gundala “Takdir” yang merupakan official movie adaptation dari film Gundala. Komik ini merupakan ekstensi dari film Gundala yang menjelaskan beberapa hal yang tidak terdapat di dalam filmnya, terutama tentang “Anak-anak Bapak”. Tujuan sang Bapak mengumpulan anak-anaknya pun dijelaskan di dalam komik ini.

Komik Gundala “Takdir” The Official Movie Adaptation, 2019
10 Karakter “Anak Bapak”

“Di antara anak Bapak kan ada karakter yang diperankan Hannah Al-Rashid dan Kelly Tandiono, bukannya mereka nanti berperan sebagai hero ya? Hannah kan Camar dan Kelly jadi Bidadari Mata Elang, kok bisa jadi anaknya Pengkor?”

Sebelumnya saya harus jelaskan dulu mengenai beberapa era yang ada di Bumilangit. Di komik Bumilangit, terdapat 4 era yaitu Era Legenda, Era Jawara, Era Patriot dan Era Revolusi. Sementara yang menjadi fokus di Jagat Sinema Bumilangit hanyalah Era Patriot (Gundala, Godam & Tira, Virgo, Sri Asih, dll) dan Era Jawara (Si Buta Dari Gua Hantu dan Mandala: Golok Setan).

4 Era Jagat Komik Bumilangit
2 Era yang menjadi fokus Jagat Sinema Bumilangit

Karakter yang diperankan oleh Hannah Al Rashid & Kelly Tandiono di film Gundala berbeda dengan karakter mereka yang sudah diumumkan sebelumnya (Camar & Bidadari Mata Elang). Karena Camar & Bidadari Mata Elang hidup di Era Jawara. Sementara setting film Gundala adalah di Era Patriot.

Bisa dibilang hal ini hanya sekadar double cast, atau bisa jadi karakter mereka di Gundala adalah “titisan” dari karakter sebelumnya, namun titisannya menjadi karakter yang jahat. Di komik adaptasi film Gundala, karakter yang diperankan Hannah Al Rashid bernama Cantika “Sang Perawat” sementara karakter yang diperankan oleh Kelly Tandiono bernama Mutiara Jenar “Sang Peraga”.

Karakter yang diperankan Hannah Al Rashid, Cantika “Sang Perawat”

Karakter yang diperankan Kelly Tandiono, Mutiara Jenar “Sang Peraga”


“Apakah pemain biola yang membakar pasar itu termasuk anak Pengkor? Kematiannya disengaja tidak ya?”

Yup, betul. Dia adalah salah satu “anak” Pengkor yang bernama Adi Sulaiman dengan julukan “Sang Penggubah”. Dia adalah dalang dari terbakarnya pasar. Soal kematiannya yang lari tertabrak bus, di komik sih ada penjelasan lebih lanjut tentang tujuan kematiannya. Coba beli dan baca dulu deh, nanti spoiler kalau saya jelaskan di sini, hehe.

Adi Sulaiman “Sang Penggubah”


“Kan ada satu anak Bapak yang disuruh kabur sama bapak tuh, dia siapa ya? Apakah dia akan ada di cerita selanjutnya?”

Di komik adaptasi film Gundala, disebutkan namanya Kanigara “Sang Pelukis”. Di komik ini dijelaskan suatu hal tentang dia yang tidak dijelaskan di dalam filmnya (lagi-lagi, saya sarankan untuk beli komiknya, for a better understanding).

Kanigara “Sang Pelukis

Apakah dia akan muncul lagi? Kalau cukup familiar dengan karakter-karakter di komik Bumilangit, pasti tau nama Kanigara. Dia adalah nama dari Maza, Sang Penakluk. Yang memiliki kekuatan yang sangat kuat, sehingga dijuluki Sang Penakluk.

Dia tak terkalahkan jika bertempur bersama dengan raksasa setianya, Jin Kartubi yang hidup di dalam pisau belatinya. Tapi apakah Kanigara yang di film ini sama seperti di komik Bumilangit? Kalau di film dan komik sih dia sama-sama berhubungan dengan lukisan. Kita lihat saja nanti. Karakter ini di film diperankan oleh Cornelio Sunny.

Maza, Sang Penakluk
Jin Kartubi

“Kenapa tiba-tiba Pengkor dan anak-anaknya tau di mana keberadaan Sancaka? Oh ya, kenapa mereka juga tau sosok pahlawan yang muncul itu adalah Sancaka?”

Di film, hal ini tidak dijelaskan sama sekali. Tiba-tiba saja mereka datang ke pabrik menghampiri Sancaka. Tapi (lagi-lagi) di komik ada hal yang sepertinya cukup menjelaskan kenapa mereka bisa tau lokasi Sancaka.

Saat anak Bapak mengetahui lokasi Sancaka

Soal darimana Pengkor tau identitas Sancaka, saya rasa dia tau itu dari Ghazul. Kok Ghazul bisa tau? Jawabannya ada di bawah nanti dan cukup mencengangkan. Baca terus sampai bawah ya! 😉


“Bagaimana sih cara Sancaka menghancurkan botol serum penawar itu secara bersamaan? Kok bisa semuanya langsung hancur secara bersamaan?”

Set up untuk adegan ini sudah ditanamkan oleh Joko Anwar dari awal film. Seperti yang sudah saya tulis di atas, saat Sancaka kecil menghampiri tubuh Bapaknya yang ditusuk, ia memegang tameng lalu menyalurkan energi yang memecahkan tameng lainnya yang ada di situ. Ini memperlihatkan bahwa benda yang memiliki material yang sama akan pecah/hancur di waktu yang sama ketika ada salah satu benda tersebut terkena energi listrik/petir yang cukup dahsyat lalu beresonansi satu sama lain.

Hal ini dipertegas lagi saat Sancaka memegang pedang milik Tanto Ginanjar, salah satu anak Pengkor. Sancaka mengalirkan energi listrik saat memegang pedang tersebut sehingga pedang tersebut hancur diikuti hancurnya pedang lain yang dipegang oleh Tanto, karena bermaterial serupa.

Adegan dilanjutkan dengan diperlihatkannya Sancaka yang berusaha menghentikan penyebaran serum penawar yang beracun dengan cara memegang botol serum tersebut lalu mengalirkan energi listrik dari petir. Energi itupun beresonansi pada material botol kaca tersebut sehingga menimbulkan ledakan energi yang dahsyat dan menghancurkan botol lainnya di tiap lokasi.


“Lalu setelah itu kok diperlihatkan Ghazul membangkitkan sesosok kakek-kakek? Siapa dia? Kok kurungannya tiba-tiba bisa terbuka? Gimana caranya dia bangkit?”

Nah, untuk pertanyaan ini bahasannya agak panjang. Siap-siap. Jadi, sosok yang dibangkitkan oleh Ghazul adalah Ki Wilawuk. Ki Wilawuk adalah penjahat jaman dulu yang sangat sakti di Era Legenda. Di komik Gundala Putera Petir: Dr. Jaka dan Ki Wilawuk karangan Pak Hasmi, diceritakan Ki Wilawuk dibunuh oleh Tumenggung Wiralaga, salah satu pendekar dari Panembahan Senopati.

Kepala dan tubuhnya dikubur secara terpisah dan sangat jauh. Berpuluh- puluh tahun setelahnya, Ki Wilawuk dibangkitkan kembali oleh keturunannya, yaitu Dr. Jaka. Ki Wilawuk hidup kembali dengan meminum darah manusia dan ia bersumpah untuk membalas dendam kepada semua keturunan Tumenggung Wiralaga. Di komik ini Ki Wilawuk yang hidup kembali bertarung dengan Gundala yang dibantu oleh keturunan Tumenggung Wiralaga.

Komik Gundala Putera Petir: Dr. Jaka dan Ki Wilawuk karangan Hasmi
Ki Wilawuk dipenggal kepalanya lalu dikubur terpisah dengan tubuhnya

Di film Gundala, Ki Wilawuk dibangkitkan kembali oleh Ghazul dengan cara mencari dan menggali tempat dikuburnya kepala Ki Wilawuk yang nantinya akan disatukan dengan badannya yang terkurung di suatu museum.

Ingat adegan saat Sancaka dengan kostum seadanya bertarung dengan para penjarah toko seorang kakek dan nenek? Diperlihatkan ada sosok yang wajahnya tertutup menghampiri Sancaka dari belakang lalu menusuknya dengan pisau yang dapat menyimpan darahnya Sancaka.

Orang tersebut adalah suruhan Ghazul, karena dibutuhkan “darah seorang pahlawan” untuk membuka kurungan kepala Ki Wilawuk dan membangkitkannya. Lalu, bagaimana cara Ghazul memecahkan kurungan kepala dan badan Ki Wilawuk?

Ghazul memegang material kaca yang diwariskan dari keluarganya

Ingat adegan ini? Saat Ganda Hamdan (anggota DPR yang setia dengan Pengkor & Ghazul) diperintahkan Ghazul untuk menggali kuburan kepala Ki Wilawuk?

Diperlihatkan bahwa Ghazul memegang suatu material kaca yang nantinya kita ketahui bahwa benda tersebut bermaterial sama dengan kurungan Ki Wilawuk, yang ternyata materialnya juga sama dengan botol kaca penawar serum amoral yang nantinya akan dipecahkan oleh Sancaka dengan kekuatan petirnya.

Jadi saat Sancaka menghancurkan botol kaca dengan petirnya, hal tersebut juga beresonansi terhadap kurungan Ki Wilawuk karena kedua benda tersebut bermaterial sama. Ya, betul, secara tidak langsung Sancaka lah yang “membebaskan” Ki Wilawuk dari kurungannya!

Maka dari itu saat Ganda Hamdan bertanya “saya harus hancurin ini (kurungan Ki Wilawuk) juga pak?” Ghazul menjawab “tidak, hanya dia (Gundala) yang mampu melakukannya”. 

Memang agak mengganjal keputusan Joko Anwar untuk tidak memperlihatkan adegan pecahnya kurungan Ki Wilawuk, tapi mungkin itu bertujuan sebagai misteri yang harus kita pecahkan sendiri saat menontonnya lagi.


“LOH KOK BISA? Ghazul ini siapa sebenarnya? Kok dia banyak tau tentang Ki Wilawuk dan Gundala? Bahkan dia tau Sancaka itu Gundala padahal Sancaka sendiri belum tau dirinya siapa? Berarti Ghazul mengkhianati Pengkor ya?”

Dari awal film diperlihatkan Ghazul sebagai tokoh yang selalu berada di samping Pengkor ke manapun Pengkor berada, sehingga kita berasumsi bahwa Ghazul hanyalah bawahan atau hanya sekadar “bayangan” dari Pengkor saja.

Namun saya rasa dugaan ini salah besar. Bila ditelaah lagi, terlihat bahwa Ghazul adalah sang mastermind yang sesungguhnya dari semua ini. Ingat, tujuan akhir Pengkor adalah membuat satu generasi menjadi cacat. Itulah mengapa dia bersikeras untuk mencegah Sancaka menghentikan distribusi serum penawar yang ternyata beracun.

Sementara tujuan Ghazul adalah untuk membangkitkan Ki Wilawuk, yang hanya bisa tercapai bila Sancaka memecahkan botol serum penawar yang bermaterial sama dengan kurungan Ki Wilawuk. Dari sini saja tujuan mereka berdua sudah berbeda.

Betul, yang mendistribusikan serum adalah salah satu perusahaan farmasi yang merupakan anak perusahaan dari perusahaan Pengkor, lalu bagaimana cara Ghazul mengatur agar botol tersebut bermaterial sama dengan kurungan Ki Wilawuk? Perhatikan twit di bawah ini:

Dari twit ini, Joko Anwar seolah mengkonfirmasi bahwa Ghazul adalah dalang di balik semuanya. Lihatlah nama perusahaan yang mendistribusikan serum penawar itu; “Ghapharma”. Ghapharma — Ghazul Pharmacy? 

See, dari sini menjelaskan bahwa Ghazul lah yang mengatur semuanya. Dia juga yang menyelipkan amplop yang berisikan hasil tes serum penawar tersebut ke dalam tas Ridwan Bahri supaya nantinya Sancaka mengetahui tentang kepalsuan serum penawar yang sudah terdistribusi.

Ghazul sudah mengetahui bahwa hanya Sancaka yang bisa menghancurkan kurungan Ki Wilawuk. Darimana dia paham banyak hal seperti ini? Saat Ganda Hamdan menggali kuburan Ki Wilawuk, Ghazul berkata bahwa keluarganya memang tidak kaya raya tapi selalu diwarisi “ilmu” turun temurun.

Di komik, Dr. Jaka yang merupakan keturunan Ki Wilawuk kembali membangkitkannya dari kubur. Apakah Ghazul di sini merupakan keturunan Ki Wilawuk? Kita lihat saja nanti. Melihat dari twit Joko Anwar di atas, sepertinya terkonfirmasi bahwa Ghazul adalah “seseorang yang tau rahasia yang paling berbahaya”.

Jadi bisa disimpulkan bahwa Pengkor dan Sancaka hanyalah sebuah pion yang “digerakkan” oleh Ghazul demi tercapainya tujuan dia dari awal yaitu membangkitkan kembali Ki Wilawuk.

By the way, sedikit teori konspirasi. Baca deh twit Joko Anwar di bawah ini:

Di twit tersebut tercantum gambar dari adegan saat karakter Hasbi (yang diperankan oleh Dimas Danang) menghubungi Ridwan Bahri bahwa ia telah menemukan nomor telepon untuk menghubungi Sancaka.

Sementara di twit paragraf sebelumnya (twit tentang Ghazul), Joko Anwar bilang “Seseorang yang tau semua, apalagi cuma sekedar menyelipkan amplop, atau nomor telepon”, apakah ini berarti Ghazul yang memberikan nomor telepon pabrik Sancaka berada kepada Hasbi? Loh kok Ghazul kenal Hasbi? Apakah Hasbi merupakan double agent? Menarik.

“Lalu Ki Wilawuk ini musuhnya siapa nanti? Hanya jadi musuh Gundala atau jadi musuh Patriot?”

Setelah dibangkitkan kembali, Ghazul berkata bahwa musuh Ki Wilawuk sudah muncul, yaitu Gundala. Ki Wilawuk terlihat terkejut lalu memerintahkan Ghazul untuk mengumpulkan pasukan karena “perang besar” akan segera terjadi.

Mungkin Ki Wilawuk akan menjadi musuh Gundala nanti, karena adegan tadi menyiratkan bahwa Ki Wilawuk sudah pernah bertarung dengan Gundala sebelumnya, jauh sebelum Sancaka menjadi titisan Gundala.

Kalau kalian ingat ada satu adegan di mana Sancaka bermimpi melihat jasad ayahnya dikelilingi oleh teman-teman buruhnya, lalu terdengar suara langkah kaki dan muncul sesosok bayangan kakek-kakek berambut panjang.

Nah itu adalah sosok Ki Wilawuk yang muncul di dalam mimpinya Sancaka, seolah memberi tau bahwa akan segera datang musuh bebuyutan untuk Sancaka yang nanti akan menjadi Gundala. Atau bisa jadi Ki Wilawuk ini dipersiapkan untuk menjadi musuh besar saat semua hero dari Era Patriot Bumilangit berkumpul dan melawannya di film Patriot. Semacam Thanos yang dimunculkan di akhir film pertama The Avengers (2012).

Ada sedikit trivia mengenai koneksi antara mitologi Jawa dengan beberapa easter eggs yang ada di film Gundala, bisa kalian simak di thread dari akun twitter @AswinDafry:


“Itu yang bantuin Sancaka menghentikan mobil distribusi serum siapa sih? Yang mainnya Pevita Pearce kalo ga salah”

Karakter tersebut bernama Sri Asih, yang diperankan oleh Pevita Pearce yang juga akan dibuat filmnya nanti. Sri Asih merupakan salah satu hero terkuat di dalam Jagat Bumilangit.

Mengenai origin dan sejarah karakter Sri Asih, bisa disimak thread yang menarik ini dari akun twitter @ShaniBudi:


“Pengkor masih hidup nggak ya? Kalau nasib Pak Agung bagaimana?”

Ada kemungkinan Pengkor dan beberapa anaknya masih hidup. Belum lagi, panti asuhan milik Pengkor tersebar di seluruh penjuru negri. Walaupun Pengkor sudah mati, bisa aja nanti mereka yang balas dendam. Sementara untuk Pak Agung, dugaan saya ia sudah meninggal.

Karena di mid-credit scene saat Ridwan Bahri bertanya mengapa Sancaka tidak pergi walaupun keadaan sudah aman, Sancaka berkata “pernah ada yang berkata ke saya, satu satunya hal yang tidak bisa berlangsung lama adalah perdamaian”. Kata “pernah ada” seolah menyiratkan bahwa Pak Agung sudah tiada.

Tapi mari berharap Pak Agung masih hidup dan akan muncul lagi, karena koneksi antara Sancaka dan Pak Agung sangatlah menarik dan lucu.


Bagaimana, apakah tulisan saya di atas cukup menjawab beberapa pertanyaan kalian? Apakah masih menganggap bahwa film Gundala ini banyak plot hole-nya? Atau hal itu adalah kesengajaan Joko Anwar agar kita merasa tidak cukup hanya menontonnya sekali sehingga harus menonton lagi dan memperhatikan detail-detail kecil di dalam filmnya?

Bagi saya, film Gundala ini bukanlah film yang sempuna, tapi film yang sudah membuka jalan bagi Jagat Sinema Bumilangit dengan sempurna. Cara Joko Anwar menggambarkan konflik sosial politik antara masyarakat dengan pemerintah sangatlah relatable dengan keadaan Indonesia saat ini.

Keputusan besar yang Joko Anwar ambil dengan membedakan kisah Sancaka di film dengan di komik saya rasa sangat tepat. Sancaka menjadi sosok yang lugu, merakyat, dan bersikeras untuk melawan ketidakadilan yang ada di depan matanya. Sancaka, atau yang nanti akan dikenal sebagai Gundala, adalah “wakil” rakyat dalam arti yang sesungguhnya.

“Terima kasih kostumnya”

“Itu bukan dari saya. Itu dari rakyat.”

Tutur Ridwan Bahri seraya Sancaka berlari secepat angin memakai kostum barunya yang sudah lebih canggih dan modern.

Senang kan rasanya, mengetahui uang pajak kita dipakai untuk hal yang berguna seperti mempercanggih kostum superhero milik kita sendiri?


P.S.: Kalau ada yang tertarik akan bahasan lebih lanjut mengenai Jagat Sinema Bumilangit, bisa follow akun twitter @rkytbumilangit atau akun instagram @rakyatbumilangit , sebuah wadah untuk diskusi lebih lanjut mengenai hal-hal seru yang ada di Jagat Bumilangit! 😉👌🏻

Artikel ini pertama kali ditulis disini (Medium).

Bantu sebarkan ke Rakyat yang lain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*