Author: #DariRakyat Bumilangit

Orasi dan Lahirnya Bayi Sancaka

Sangaji Dharma mengusap keringat yang mengalir di dahinya. Beberapa jam sudah ia habiskan berdiri di bawah terik sinar matahari. Bersama kawan-kawan ia mengikuti aksi solidaritas di pabrik garmen yang tak jauh dari tempat kerjanya. Karyawan pabrik garmen menuntut upah layak sesuai UMK serta menuntut hak untuk membentuk serikat pekerja.

Terus berdiri di bawah sengatan sinar matahari bukanlah hal yang menyenangkan namun Sangaji selalu bersemangat mendengar orasi yang dikumandangkan dari mobil komando. Kawan-kawannya pun tak kalah semangat, akan tetapi mereka memiliki alasan yang berbeda.

Aksi solidaritas di pabrik garmen berarti mereka berada di antara ratusan demonstran perempuan. Beberapa kawan Sangaji tampak telah mencuri kesempatan berkenalan dengan para gadis di kerumunan.

Sangaji menggelengkan kepala, setengah geli setengah jengah melihat kelakuan kawan-kawannya.

Seorang kawan menghampiri, menawarkan untuk memperkenalkan Sangaji kepada para pekerja perempuan yang sedang terkikik-kikik melihat Sangaji dari sisi kiri mobil komando.

Kawan itu heran mengapa Sangaji selalu menolak tawaran untuk berkenalan dengan para perempuan di acara aksi. Alasannya selalu karena ia datang untuk solidaritas aksi, bukan sekedar menebar pesona.

Meskipun menurut sang kawan tidak ada salahnya juga untuk mencari kenalan di saat yang sama, toh mereka tidak mengganggu perundingan di dalam pabrik ataupun koordinator aksi yang berorasi di atas mobil komando.

Sangaji adalah pemuda yang cukup tampan. Kawan-kawannya heran mengapa ia masih melajang di usia yang nyaris 22. Sangaji sendiri tak ambil pusing karena hingga kini ia memang belum menemukan perempuan yang mampu menggerakan hatinya. Toh sekarang ia juga sibuk dengan urusan serikat, beberapa bulan lalu ia diangkat menjadi salah satu Panita Unit Kerja Serikat Pekerja di pabrik tempat ia bekerja.

Sementara kawannya kembali ke arah para pekerja perempuan yang kecewa karena gagal berkenalan dengan Sangaji, koordinator aksi mengundang seorang pekerja pabrik garmen naik ke atas mobil komando untuk menyuarakan pendapatnya.

Pekerja itu masih muda, mungkin sedikit lebih muda dari Sangaji, namun untuk ukuran pekerja pabrik garmen yang mayoritas terdiri dari bocah bocah baru lulus (atau baru keluar) sekolah menengah, ia pasti termasuk pekerja senior.

Sangaji mendengarkan orasi sang pekerja yang penuh semangat. Ia menceritakan upah mereka yang tak layak serta manajemen yang melakukan intimidasi pada karyawan yang hendak membentuk serikat.

Tak ragu perempuan dengan potongan rambut sebahu itu juga menggunakan kata-kata yang tergolong kasar untuk mendeskripsikan betapa buruknya perlakuan manajemen pabrik garmen kepada para pekerjanya.

Beberapa kawan Sangaji tampak agak kaget, sesama pekerja garmen nampak ikut tersulut semangatnya meskipun ada juga di antara mereka yang mencibir orasi itu.

Kini Sangaji sudah sering mendengarkan orasi di berbagai aksi, yang diserukan oleh perempuan atau laki-laki, oleh pemuda pemudi hingga aki-aki tapi baru kali ini ia merasakan gelora yang berbeda dalam dadanya.

Semangat yang ditunjukan si pekerja tadi menyulut sesuatu dalam hatinya. Ketika mendengar si pekerja menggunakan kata-kata kasar, alih-alih kaget atau tersinggung, ia justru merasakan kejujuran yang murni dari  pekerja tersebut.

Begitu pekerja perempuan itu selesai menyuarakan orasinya, koordinator aksi memperdengarkan lagu-lagu dangdut agar semangat para demonstran tidak surut. Para peserta aksi pun semakin merapat mendekati mobil komando sembari berjoget-joget seadanya.

Sangaji tidak peduli pada lagu dangdut. Matanya tertuju pada pekerja perempuan yang baru saja selesai orasi. Setengah sadar kaki Sangaji terayun, ia berjalan mendekati perempuan itu.

Pekerja perempuan itu turun dari mobil komando disambut dengan sorai teman-temannya sesama pekerja. Mereka menarik perempuan itu mundur dari kerumunan massa menuju para pedagang makanan kaki lima yang berkumpul di sekitar lokasi aksi.

Sangaji berhasil menyusul ketika mereka hendak memesan rujak dari pedagang dengan gerobak buah-buahannya. Ia mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri pada perempuan itu sementara teman-teman si perempuan tertawa terkikik-kikik.

Ia menawarkan untuk membeli rujak untuk si perempuan dan teman-temannya karena ia merasa terkesan dengan orasi yang baru saja ia dengarkan.

“Aku Kurniati Dewi. Terima kasih rujaknya ya.”

Sangaji Dharma mengutuk dalam hati. Ia merasa sangat bodoh namun juga sangat bahagia sekaligus. Setelah melihat Kurniati meluapkan amarahnya di atas mobil komando di tengah kerumunan massa, ia kini melihat Kurniati juga memiliki senyum yang sangat manis.

Seperti sambal rujak yang mereka makan, perempuan itu memiliki sisi pedas yang penuh semangat namun ia juga memiliki sisi manisnya sendiri. Mendadak Sangaji ingin melihat kedua sisi itu setiap hari dalam hidupnya.

—————————————————————————————————

Sekilas, rumah di tepi jalan kecil itu tampak seperti rumah biasa. Yang membedakan hanyalah banyaknya kelompok orang yang datang dan pergi serta beberapa tiang terpancang di depan rumah, mengibarkan bendera merah putih juga bendera organisasi serikat buruh.

Rumah itu tak terlalu luas namun cukup untuk menjadi tempat berkumpul, bermusyawarah, berkonsolidasi juga sekedar untuk bercengkerama dengan kawan-kawan.

Akhir-akhir ini Sangaji Dharma lebih sering menghabiskan waktunya di rumah itu, konsulat cabang serikat pekerja (lebih sering disebut “KC” oleh para “penghuninya”) daripada di rumah petak yang ia sewa bersama seorang temannya.

Rumah petak yang ia huni beratapkan seng, menjebak panas dalam ruangan sehingga kadang Sangaji sulit tidur. Sementara jendela di KC selalu terbuka lebar membawa angin dan udara segar meskipun ruangannya selalu penuh dengan orang.

Malam ini Sangaji kembali menghabiskan waktu di KC. Ia dan kawan-kawan melewatkan malam minggu ini dengan bermain gitar dan bernyanyi-nyanyi. Suara sumbang tak peduli. Mereka menghibur diri bersama, tertawa-tawa sebelum senin kembali dan kesibukan kerja menghampiri.

Sudah lebih dari seminggu berlalu sejak aksi di depan pabrik garmen. Manajemen pabrik sudah membuka diskusi dengan perwakilan para pekerja.

Sangaji tidak tahu pasti kondisi terkini ataupun hasil dari perundingan tersebut. Dalam hati ia sedikit kecewa karena setelah perkenalannya dengan Kurniati Dewi hari itu, mereka sekalipun belum bertemu lagi.

Bayangkan betapa gembiranya ia ketika tak berapa lama ia melihat serombongan pekerja pabrik garmen bertamu ke KC. Dari sekian banyak tamu yang datang Sangaji dapat melihat Kurniati beserta dua kawan yang juga menemani dalam aksi minggu lalu.

Para pekerja datang untuk memberitahukan kabar gembira bahwa manajemen telah merestui pembentukan serikat pekerja, dengan begitu sekarang mereka harus segera membentuk Panitia Unit Kerja untuk melakukan perundingan upah dengan manajemen.

Sangaji tidak heran ketika para pekerja menunjuk Kurniati untuk menjadi salah satu PUK. Tak hanya bersemangat dalam orasi, ternyata Kurniati juga antusias mempelajari hal-hal teknis dalam menggerakan serikat.

Dari diskusi yang terjadi di dalam KC, tampak jelas bahwa Kurniati telah mempelajari undang-undang ketenagakerjaan serta aturan-aturan resmi dalam serikat. Kekaguman dalam hati Sangaji semakin tak terkendali.

Begitu pertemuan di KC selesai, Sangaji segera menawarkan diri untuk mengantarkan Kurniati dan dua temannya pulang. Kawan-kawan Sangaji yang melihat mulai bersiul-siul genit, menggoda bahwa akhirnya si lajang rupawan dari pabrik peleburan besi menemukan tambatan hatinya juga.

Alih-alih tersipu malu Kurniati dan dua temannya justru ikut mencandai Sangaji hingga justru Sangaji sendiri lah yang merasa malu.

Dalam perjalanan pulang Sangaji berusaha untuk mengobrol sebanyak mungkin dengan Kurniati, menghiraukan dua temannya yang tak henti tertawa terkikik.

“Jadi…..sekarang pekerja pabrik garmen sudah bersatu untuk berserikat. Kamu gak pengen bersatu membentuk ikatan sama orang lain juga?”

Kurniati dan kedua temannya tertawa begitu puas mendengar usaha Sangaji untuk merayu yang sangat konyol dan agak memalukan itu. Sangaji menyadari kata-kata bodohnya mengutuk diri dalam hati tapi ia tetap senang melihat Kurniati tertawa.

“Ya ampun, mas Aji. Kita kan baru kenal.”

Sangaji hanya tersenyum bodoh.

“Mas belum tahu kan kalau saya kerja sebagai operator jahit di bagian jahit lengan di pabrik garmen? Setiap hari saya hanya mengoperasikan mesin jahit, membuat lengan kanan untuk ribuan baju. Cuma lengan kanan aja. Setiap bagian mengerjakan bagian masing-masing. Kami nggak tahu akhirnya bentuk baju jadinya seperti apa.”

Benar Sangaji tak tahu hal itu sebelumnya. Ia pikir setiap pekerja mengerjakan satu baju masing-masing, bukan hanya menjahit salah satu bagian baju terus setiap hari. Tapi ia juga tidak mengerti apa hubungannya cerita Kurniati itu dengan tawarannya untuk menjadi kekasih Kurniati.

“Sekarang kita saling mengenal aja dulu. Kalau nanti memang kita berjodoh kemudian lalu…..membentuk perserikatan bersama— ” disini Kurniati tertawa kecil,

“saya pengen punya mesin jahit sendiri jadi saya bisa merasakan rasanya menjahit satu baju sendiri sampai jadi baju itu bisa dipakai.”

Sangaji mengangguk senang. Ia berjanji jika suatu saat nanti ia bisa beruntung menjadi jodoh perempuan hebat ini, ia akan membelikannya mesin jahit sendiri agar Kurniati bisa berkarya dan bukan hanya sekedar menjahit lengan kanan terus seumur hidupnya.

—————————————————————————————————

Sangaji menepati janjinya. Setelah mereka menikah Sangaji mengontrak rumah petak kecil tak jauh dari kawasan industri. Ia membeli mesin jahit bekas yang masih terawat, harganya masih sedikit mahal karena bermerk Singer, merek mesin jahit yang andal.

Kurniati meminjam buku cara menjahit dan membuat pola dari perpustakaan daerah. Ia nyaris menangis ketika berhasil menjahit bajunya yang pertama.

Kurniati akhirnya mengundurkan diri dari pabrik garmen dan kepengurusan serikat pekerja ketika ia mengandung. Setelah sang bayi yang diberi nama Sancaka itu lahir, Kurniati lebih sibuk di rumah.

Sekarang ia sedang menjahit baju bayi sementara Sangaji, sang suami yang sedang libur kerja menimang bayi Sancaka.

Hei Indonesiaku,” Sangaji bernyanyi kepada bayi Sancaka,

Tanah subur, rakyat nganggur.”

Kurniati hanya tersenyum kecil mendengar Sangaji yang alih-alih menyanyikan lagu anak-anak atau nina bobo, malah menyanyikan lagu yang sering dikumandangkan saat aksi buruh.

Tanam padi tumbuh pabrik. Tanam jagung tumbuh gedung. Tanam modal tumbuh korupsi. Tanam demonstran…….tumbuh TNI.

Bayi Sancaka yang belum mengerti apa-apa tidak ambil pusing dengan lagu yang dinyanyikan bapaknya. Ia hanya tahu wajah lucu sang bapak ketika menimangnya. Bayi Sancaka tertawa dalam gendongan Sangaji.


Oleh : Khentkaues (Yogyakarta)
Instargram: @Khentkaues

The Persistence of a Memory – Gundala The Series (Chapter 1)

“Help! Please, anyone, help me!”

“Shut up, lady. All we ask for was the bag. Give it to us, and we’ll let you walk out of here without any scratch.”

Sancaka shook his head, not wanting to take any part of it again ——— it’s been twenty years, and it lingers   ;   the taste of blood that stays on his tongue that drips from his lips when he fought that one older boy who assaulted a girl, the fear that he holds when he realized that he took the wrong step, and the courage that he used to have. The fear and courage have turned into ignorance. Unwilling and unbothered, is how he keeps himself alive for the past years, even though his heart says otherwise. Awang has always been his greatest teacher & memory  ———  he had taught him even more than both his parents. Sancaka doesn’t believe in the world anymore.

Police sirens have always been his lullaby. It’s two in the morning, and Sancaka had finished his shift earlier and this is one of the rare chances where he was allowed to leave an hour before it actually ends. Walking back to his little apartment feels heavier than before, having heard the poor woman’s scream, calling for help from anyone who passes by.  But he can’t. There’s enough trouble in his life already, and there’s no plan to add even just a little more on to it.

Sancaka’s feet drag themselves up to the stairs, counting each step to keep his own mind busy, distracting himself from what he has seen earlier. He took the key to his room from his front pocket, and unlocks it slowly. No lights were turned on, and it doesn’t matter. Three years living in the same tiny and cramped apartment made him able to navigate his own furniture, only to occasionally bump his hip on the drawer right in front of the door.

Long day, he thought.

It would’ve been nicer if he had a proper bed instead of a couch that can barely fit the entire length of his height, from head to toe. The rain poured itself on to the city yesterday, for a whole day, so he had left the barred windows and its curtains open when he left for work, in hope of a change of the air.  

 —————————————————————————————————————-

Sancaka walked out of the shower with a decent-fresh-smelling shirt and yesterday’s pants. After he hanged the towel he had used earlier, the man walked towards his little stove, and boils himself a cup of warm water. People had always complained about how hot Jakarta could be, but they also forgot how cold it could be at night, considering how he could feel the breeze blowing inside through his windows. He’d take the cup in both of his hands, letting the warmth spread on to his palm. He walks back towards the couch and sets the cup on the table. Sancaka then pulled a little string that was hanging from his little lamp on the table to turn it on. A sigh left his lips almost as immediately as the lights got turned on and off again. He’s way too distracted to even begin to distract himself again.

He could’ve helped  ;  he knows that he could’ve stopped and helped that poor lady. He could’ve stopped for ten minutes and scare them off, or he could fight. Even if it has been around twenty years, Sancaka still remembers what has Awang taught him, and it’s not just that one quote that he has been living off for years now. And it’s not like this is the first time he watched chaos happened and did nothing. The city hasn’t been nice to anyone   ;   robbery, burglary, manslaughter .  .  . everything had happened at least once. Sancaka reached out for the tv remote that was placed on the other end ( corner ) of the couch, and proceeded to turn the news channel on. To no one’s surprise, it’s still the same  ;  crimes in the city, poverty, and the government.

Later, he’d take the water cup back in his hands, this time with the intention of drinking it content. Once again, a sigh would leave his lips as he placed the now empty cup back to the table, turn the lamp off, and lay himself on the couch. Sancaka laid his head on the arm rest, as his right arm would be placed on his head, covering both of his eyes.

9 AM, THE NEXT DAY.
The loud chattering from outside of his room woke him up once again. Maybe that was an exaggeration, but loud noises have never been the best thing to wake up to. Slowly, he’d open his eyes, as he let a yawn escaped his lips as he does so. One would think that sleeping may ease his thought, but, no. It has gotten worse by each time that passed. Not just the woman, but the city that suffers underneath those with power and authority.

Sancaka got up from the couch, and with his now-wrinkly shirt, he made himself a cup of coffee  —  a little something to wake himself up. He has never been the one to have a decent meal before eleven   ;   when he was a kid, it was because there was nothing to eat, no left-overs yet. But now, it’s out of habit. So there he was, standing, facing his window while he’s waiting for the water to boil. Both hands were set on the sides of his stove, as his eyes were set on the bars on his window — but his mind wanders elsewhere, spending so long that he doesn’t realize that the water was hot enough, somehow ignoring the loud noise that the kettle made.

It took him ten seconds to realize what he has done, and it took him less to turn the fire off, and pour the hot water into last night’s empty water cup, that he had poured a sachet of instant coffee earlier, just before he got lost on his own train of thoughts. Hearing the sound of water flowing down to his cup managed to calm his heart rate by at least a few beats. Though, it doesn’t help that much. He brought the coffee cup in his hands, and once again, he’d settle himself down on his couch.

3 PM, LATER THAT DAY.
“Sorry,” Said a woman who was holding her son’s hand, as she bumped into Sancaka’s figure when she walked by. Instead of giving the stranger a reassurance that it was okay, Sancaka flashes her a smile —that was more like the twitch of the corner of his lips, without even the effort to let the woman sees.

He walked past the crowded traditional market, still with all the thoughts and doubts in his mind. The loud chattering may have distracted him for a little bit, but a particular voice stood out, waking himself up from his thoughts. He didn’t bother to stop by, but he knew it’s the woman that just moved in. How did he know? Similar voice to the one that he heard early in the morning two days ago before he got back to sleep, and the same figure with the woman who he saw walking inside the apartment complex when he was about to leave for work. Though, he couldn’t care less  ——  he threw a glance to the crowd, before walking past by. After all, all he wanted was to buy himself a meal for dinner before it turns dark.

Five minutes and two blocks later, he arrived at a small food stall, and ordered himself some food. A glance was thrown at the small tv that was installed on the corner table  ;  a glance on the highlight of the news, and his curiosity was soon replaced by anger and confusion. There’s always something with the people with money and power  ——  corruption, money laundry, and enslaving the people who live below the poverty line . He’d then take the food that he had ordered, paid, and immediately went back to his apartment.

8 PM, THAT NIGHT.
Sancaka turned his television on again once more, only to see the same news from what he had seen earlier. He’d sit there for a few quiet moments before he heard a distant gunshot noise, followed by the sound of some people screaming, that could be heard coming from the block behind his apartment, around the area where he saw the woman yesterday. This couldn’t happen anymore. He should at least check on it. As he was walking towards the drawer where he put all the ‘junk’ from the factory, he had all the inner conflicts within him.

It’s not your problem, Sancaka.

When he opened the drawer, Sancaka clenched both of his fists, rethinking his own decision. Something needed to be done, but no one is taking action. He held his breath and started to count from one, in a poor attempt to calm himself down. Thirteen, fourteen, .  .  . fifteen. He emitted a sigh, letting his mind to clear itself, before giving himself a nod and take a piece of black handkerchief, and two rolls of black cloth. Then he’d walk to the mirror that was hanging beside the bathroom door, and look at himself in the eyes, asking every question that he has to himself. Every disagreement was encountered with a solid ‘but’ that contradicts his previous statement. He doesn’t want to, but in all honesty, who does?

Sancaka wrapped the handkerchief on his face after folded it into two, covering his features from the nose down. The cloth would be his gloves, even though he’s still doubting his own decision. What the hell are you thinking? What are you going to do? Why can’t you just ignore it, like what you’ve been doing for nearly twenty years? After all those mental questions, Sancaka found himself walking up the back stairs that led to the rooftop, still wrapping the cloth on his fists.

It’s not even 9 p.m, but the streets weren’t as crowded as before. People are scared, but not for the right reason. Sancaka stood right at the corner of the rooftop, before he perched himself on the narrow corner. His eyes carefully watched every alleyway that was dimly lit, looking for his potential suspects. Right before his eyes reached a particular neighborhood, yet another distant gunshot noise could be heard, a deafening crack of thunder that would drive everyone who heard them away, running with fear and the hope of survival.

Sancaka stood up once again, as he tightened the cloth that was on his wrist, before pulling the handkerchief slightly higher than before.

The city needs help.
And they’re going to find salvation.


by: @goddamngodam [Tangerang]

Cerita Berdasarkan Lagu Fiction (Avenged Sevenfold) Dengan Sudut Pandang Seorang Sancaka

JAKARTA – RakyatBumilangit.com | Lagu “Fiction” dari group band “Avenged Sevenfold” (A7X) sangat menarik untuk dibedah lalu dimasukkan cerita tentang Patriot Bumilangit dengan sudut pandang seorang Sancaka.

Now I think I understand
How this world can overcome a man

Patriot sudah melalang buana melawan para musuh yang hendak menghancurkan negeri ini. Hari ini merupakan perhelatan terakhir bagi Patriot sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk pensiun.

Patriot dinyatakan menang dalam perhelatan ini, namun aku terluka parah. Luka itu seperti membunuhku pelan-pelan.

Aku merasa bahwa aku akan mati dalam waktu dekat. Dan aku sudah merasa lelah dengan semua perhelatan ini.

Aku ingin beristirahat.

Like a friend we saw it through
In the end I gave my life for you

Aku telah memberikan seluruh hidupku kepada Patriot, dan kepada negeriku ini.

Aku sangat senang menjadi bagian dari Patriot, orang-orang yang rela mengerahkan sebagian hidupnya untuk melawan beberapa musuh demi negeri, dan demi masyarakat Indonesia.

Gave you all I had to give
Found a place for me to rest my head

Ya, seluruh hidupku sudah kukerahkan demi negeri ini, dan demi Patriot, yang sudah kumanggap sebagai saudaraku. Dan aku merasa bahwa sudah saatnya aku harus menutup buku kehidupanku.

Aku telah menemukan tempat terbaik untuk beristirahat dari perhelatan ini.

While I may be hard to find
Heard there’s peace just on the other side

Tempat itu memang sulit untuk kalian cari, dan bahkan kalian temukan. Kalian juga akan sulit menemukanku disana.

Oh iya, tempat itu merupakan tempat yang paling damai, tidak ada perhelatan terjadi disana. Kalian akan mengetahui tempat itu nanti saat waktunya tiba.

Not that I could or that I would
Let it burn under my skin
Let it burn

Sekarang, biarlah luka ini menggerogoti nyawaku. Biarlah luka ini merenggut kehidupanku.

Aku memang pantas mendapatkan ini semua.

Left this life to set me free
Took a piece of you inside of me

Aku rela meninggalkan dunia ini agar aku bisa mendapatkan kebebasan yang aku mau, walaupun harus bertarung dan berhelat lagi. Memang berat nyatanya karena aku meninggalkan kalian disini, tetapi aku tidak akan melupakan kalian.

Aku akan mengenalkan diri sebagai anggota Patriot disana. Aku akan memberitahu betapa berharganya Patriot bagiku, bagi kehidupanku.

All this hurt can finally fade
Promise me you’ll never feel afraid

Akhirnya, semua luka karena perhelatan ini sudah memudar. Biarkan aku beristirahat. Kalian tidak perlu takut dengan ketidakhadiranku di sisi kalian.

Aku akan baik-baik saja disana.

Not that I could or that I would
Let it burn under my skin
Let it burn

Sekali lagi kukatakan, biarlah luka ini menggerogoti nyawaku. Biarlah luka ini merenggut kehidupanku.

Aku memang pantas mendapatkan ini semua.

I hope it’s worth it
Here on the highway, yeah
I know you’ll find your own way
When I’m not with you

Aku harap pilihanku merupakan pilihan yang paling layak yang aku pilih. Dan aku tahu kalian mampu hidup tanpaku.

Kalian adalah orang-orang terkuat yang pernah aku temukan dalam kehidupanku.

So tell everybody
The ones who walk beside me, yeah
I hope you’ll find your own way
When I’m not with you tonight

Tolong, beritahu semua orang yang sudah mendukungku bahwa aku akan pergi dari dunia ini. Bahwa aku akan menemukan kehidupan yang layak di alam lain.

Aku pun berharap bahwa mereka dapat merelakan kepergianku. Aku juga berharap bahwa mereka dapat mengikhlaskan kenyataan bahwa aku kini tiada di sisi mereka.

Bahwa Patriot kini sudah tidak ada.

I hope it’s worth it
What’s left behind me, yeah
I know you’ll find your own way
When I’m not with you

Aku harap semua ini setimpal dengan apa yang kutinggalkan di dunia ini. Dan aku pun tahu kalian akan dapat menemukan cara bagaimana agar kalian dapat hidup tanpaku.

Kalian benar-benar orang-orang terkuat yang pernah aku kenal.

So tell everybody
The ones who walk beside me, yeah
I know you’ll find your own way
When I’m not with you tonight

Sekali lagi tolong, beritahu semua orang yang sudah mendukungku bahwa aku akan pergi dari dunia ini. Bahwa aku akan menemukan kehidupan yang layak di alam lain.

Aku tahu mereka akan menemukan cara bagaimana agar mereka dapat merelakanku. Aku juga berharap bahwa mereka dapat mengikhlaskan kenyataan bahwa aku kini tiada di sisi mereka.

Bahwa Patriot kini sudah tidak ada.

Selamat tinggal. Aku pergi.

#DariRakyat Farah “Devil’s Sword”
Twitter: @rakyeetpride